Just another WordPress.com site

kisah sedih seorang ibu

Ada seorang ibu yang anaknya bersekolah di luar pulau. For ur information, keluarga mereka sangat sangat sangat sederhana. untuk bisa menyekolahkan anaknya, sang ibu bekerja dengan sangat keras.

Sampai suatu hari, sang ibu tidak sanggup lagi menahan rasa rindu pada anaknya. Rupiah demi rupiah disisihkan agar beliau bisa mengunjungi anaknya. Akhirnya hari itu pun tiba. Ibu membeli tiket ekonomi sebuah kapal yang akan membawanya mengarungi lautan selama lebih kurang 5 hari perjalanan.

Perjalanan pun dimulai. Jantung Ibu berdegup lebih kencang dari sebelumnya karena kurang dari seminggu lagi ia akan bisa memeluk anaknya. Dari awal, si ibu sudah mempersiapkan perjalanannya dengan sangat terencana. Ia mendengar bahwa katanya nih, kalau makan di restoran kapal, harga makanannya sangat mahal. Maka sedari awal, si Ibu sudah mempersiapkan bekal secukupnya untuk 5 hari. Jadi, mulai dari hari pertama, si Ibu tidak pernah mau keluar kamarnya, ia takut akan tergoda untuk makan di restoran kapal.

Hari ke-5 pun menjelang. Si Ibu rupanya sudah sangat bosan dengan bekalnya yang itu-itu saja. Maka ia pun berkata pada dirinya,”Untuk hari terakhir ini, aku akan makan di restoran kapal saja. Toh ini sudah hari terakhir”. Maka ia buka pintu kamarnya dan bergegas menuju restoran. Si Ibu makan dengan sepuas-puasnya. Setelah semua makanan tandas, ia berseru memanggil pelayan,” Dek, ini dihitung semuanya”. Si pelayan datang dengan wajah melongo kebingungan. “Lho, Ibu kenapa? Semua makanan ini kan gratis, Bu. Kan harga tiket mencakup biaya perjalanan dan makan selama 5 hari,” terang si pelayan yang membuat si Ibu lebih melongo lagi.

Anda bisa bayangkan jikalau anda di posisi si Ibu? Apa yang anda rasakan? Sebesar apa teriakan yang ingin anda keluarkan saking kesalnya?

Bisakah anda analisa apa kesalahan utama si Ibu? Saya tidak akan menunggu jawaban anda karena saya akan memberi jawabannya sekarang. Yaitu, si Ibu tidak mau membuka membuka diri terhadap infomasi. Andai saja dia mau membuka pintunya dan bertanya pada penumpang lain tentang keadaan yang sebenarnya, pastilah kekecewaaan itu tidak akan terjadi. Beliau lebih percaya pada informasi yang berawal dengan kata ‘katanya’ yang membuat si Ibu menutup diri dari informasi sebenarnya.

Pernahkah anda mengalami hal seperti si Ibu? Pastikan bahwa hal tsb tidak akan terulang lagi. Banyak orang yang menyesal seumur hidupnya karena ia telah melewatkan informasi penting yang mungkin bisa mengubah jalan hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: