Just another WordPress.com site

Tragedi Ikan Teri

            “Dek,” panggilku.

“Ya?” Adikku Farhan akhirnya menoleh setelah kupanggil lebih dari tiga kali. Tapi tangannya masih menyendoki sayur tumis yang kumasak.

Mbak kan sudah bilang, hari ini jangan bawa bekal dulu. Rencananya masakan ini Mbak masak cuma untuk sarapan aja. Tapi kamunya malah ngotot mau bawa bekal. Mana pakai kotak bekal punya Mbak, lagi. Belum lagi kalau kamu bawa bekal, ngambil nasi lima sendok nasi sekaligus,” tegurku.

“Yah, Mbak …. Farhan kan suka bawa bekal. Daripada Farhan jajan di kantin? Makan makanan yang dijual tepat di samping tempat sampah? Ih, enggak deh Mbak. Mbak sendiri juga suka bawa bekal kan,” belanya sembari menutup kotak bekalnya yang sudah penuh.

“Tapi ya, jangan kayak gini juga dong. Kamu nggak kasihan sama ibu yang setiap hari harus bangun jam empat demi memasakkan bekal untukmu?” tanyaku sambil menunjuk pintu kamar ibu. Yah, sekarang ibu sakit-sakitan. Tapi itu cuma kecapaian, kok.

Farhan manyun. “Tapi Mbak Farah nggak ngerti.”

“Farah …,” ibu memanggil dari dalam kamar.

“Ya Bu!” sambutku sambil berlari kecil menuju kamar. “Ada apa?”

“Ke sini sebentar Nak.” Ibu menepuk kasurnya. Aku duduk di samping tempat tidur.

“Seharusnya …, terus …. Dan lagi …, apalagi …. Ya?” Ibu membisikkan sesuatu di telingaku. Aku pun mengangguk mantap.

“Ada apa, Mbak?” tanya Farhan ketika aku keluar dari kamar Ibu.

Aku menggeleng. “Sudah belum? Yuk, berangkat!” ajakku sambil memakai kaus kaki sekolah.

Kemudian kami berangkat ke sekolah bersama ayah yang kebetulan berangkat pagi.

Di sekolah ….

Ya, untuk hari ini pun, aku tidak melihat Farhan memakan bekalnya. Hm, kejadian tadi pagi sudah berlangsung beberapa hari ini. Aku mulai curiga, jangan-jangan Farhan tidak memakan bekal itu? Atau, ia di-bully temannya, agar membawa bekal setiap hari?

Apalagi, bekal yang dia bawa selalu sayur tumis dengan lauk ikan teri. Selalu itu! Ini harus dihentikan. Aku harus mengetahuinya.

###

            Aku berkacak pinggang ketika melihat bekalnya Farhan ludes, tak tersisa.

“Dikemanakan sih?” tanyaku dengan tetap berkacak pinggang.

“Apanya Mbak?” Farhan balik bertanya. Ia pulang dengan baju dikeluarkan, celana kotor, dan dengan penuh keringat. Ia menenteng sebuah sepak bola. Oh, pantas, dia bermain sepak bola rupanya. Biasalah, anak cowok.

“Sudah balik bertanya, pura-pura tidak tahu pula!” omelku kesal.

“Farhan nggak tahu, Mbak,” jawabnya enteng sambil melepas bajunya yang basah kuyup. Aku agak jijik melihat bajunya. Ya, Farhan sering bermain sepak bola di lapangan sekolah saat pulang sekolah.

Aku mencibir, “Nggak tahu atau nggak tahu?”

“Beneran nggak tahu!” dengus Farhan. Kemudian ia mengambil piring.

“Ee! Mau apa kamu?” cegahku saat Farhan mengambil nasi di rice cooker.

“Mau makan lah, Mbak!” ujarnya risih.

“Sudah, sudah. Ada apa ini?” Ibu muncul tiba-tiba.

“Farhan Bu,” aduku, “tadi pagi sudah kubuat sarapan untuknya. Tapi ternyata cuma untuk bekal. Tapi, tadi kulihat dia nggak makan bekalnya. Padahal dia sudah bawa bekal banyak banget. Belum lagi dia mau makan sore-sore begini. Katanya tadi siang dia belum makan apa-apa.”

“Beneran Farhan makan bekalnya, kok!” elak Farhan.

“Ihh. Beneran apa beneran?” godaku gemas melihat mukanya yang seperti anak TK.

“Hu-uh!” Farhan berkacak pinggang. “Tapi Mbak ….”

“Sst! Sudah sore tuh! Ibu sudah masak makan malam, lho!” lerai ibu.

“Ha? Ibu kan masih sakit!” Mulut kecilku membulat.

“Sudah agak baikan,” ucap ibu. “Sudah, Farhan mandi sana! Bau asem, tuh! Kayak sayur asem yang Ibu masak,” goda ibu sambil mendorong Farhan menuju kamar mandi.

Aku terkikik kecil.

“Farah,” panggil ibu.

“Ya Bu?” Aku yang sedang membereskan piring berisi nasi milik Farhan tadi menoleh.

“Kamu tahu kan, apa yang Ibu bilang tadi pagi?” Ibu memastikan.

“Pasti Bu,” jawabku mantap.

###

            “Farhan! Main yuk!” Beberapa anak laki-laki berdiri di depan rumahku, berseru memanggil Farhan.

“Ya! Sebentar!” balas Farhan sambil membawa bola sepaknya.

“Eeh, kamu mau ke mana?” cegahku saat Farhan berlari ke halaman depan.

“Mau arisan, Mbak!” jawabnya. Aku manyun. “Ya jelaslah, mau main bola!”

“Sore-sore begini?” aku tak percaya. Farhan mengangguk cepat. “Memangnya kamu sudah mengerjakan pe-er?”

Giliran Farhan yang manyun. “Mbak ini kayak Ibu aja! Ya sudah, lah! Mana boleh Farhan main bola kalau belum mengerjakan pe-er. Bisa-bisa Farhan langsung dijadikan rempeyek sama ibu.”

“Kamu ini. Eh, kamu ke lapangan pakai apa?” tanyaku penasaran.

“Pakai bulldozer,” jawabnya asal. “Nggak kok, pakai sepeda. Memang kenapa?”

Mbak boleh ikut nggak?”

“Apa?” Farhan tak percaya.

Mbak bilang, Mbak boleh ikut nggak?” ulangku.

Farhan tertawa terpingkal-pingkal. “Wahahaha, Mbak juga mau ikut main bola? Hahaha, nggak salah? Bukannya setiap Mbak main bola, bolanya malah nyasar masuk ke rumah orang? Wuahahaha,” tawanya sekaligus meledek.

“Kau ….” Aku siap mengomelinya.

###

            Ini dia yang paling nggak kusuka dari Farhan. Anak kelas empat ini selain hobi main bola, sukanya ngebut kalau naik sepeda. Nggak peduli mbak-nya sudah menjerit-jerit, dia tetap ngebut! Tapi aku dan Farhan cuma selisih dua tahun aja, kok. Heheh.

“Farhan! Jangan kencang-kencang, dong!” Aku memperingatkannya lebih dari lima kali.

“Ah, ini sudah pelan kok Mbak!” elaknya. Aku meringis gemas.

Hm, ya. Aku dan Farhan akan ke lapangan sekarang. Bukan untuk main bola atau apa. Tapi aku memaksanya ikut untuk menunjukkan suatu ‘penyebab’ mengapa bekalnya Farhan ludes tak tersisa. Setelah kuomeli panjang lebar, tentunya.

Ini lagi! Kenapa dia malah ambil arah ke sekolah?

“Ish! Farhan! Katanya mau ke lapangan?” aku kembali memperingatkan seraya memukuli bahunya pelan.

“Apa sih! Katanya Mbak Farah mau tahu kenapa bekalnya Farhan habis? Ya di sekolah dong!” jawabnya risih.

Aku terdiam. Begitu ya? Hmm …, aku jadi makin penasaran, aku membatin.

###

            “Sudah sampai! Turun, Mbak!” Farhan turun dari sepeda. Aku juga ikut turun.

Kami sampai di sekolah. Sekolah tampak sepi. Aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tanganku. Ah, pantas saja. Sudah jam setengah enam. Untunglah gerbang sekolah masih dibuka karena masih ada beberapa guru yang sedang rapat.

“Ayo!” Farhan berjalan menuju halaman belakang sekolah. Sepedanya diparkir di dekat pintu gerbang. Aku mengekor.

Farhan menunduk. Ia mencari-cari sesuatu.

“Ah, ini dia!” pekiknya senang. Ia membawa sebuah kardus. Aku mengernyitkan kening.

“Apa ini?” tanyaku keheranan.

“Lho, katanya ‘penyebab’ bekalnya Farhan habis! Ya ‘sesuatu’ yang ada di dalamnya ini, ‘penyebab’ kenapa bekalnya Farhan habis, Mbak!” jawab Farhan.

“Oh?” Mulut kecilku membulat. “Terus? Ada apa di sini?”

Farhan tersenyum jenaka. Lalu ia membuka kardus itu. Tampaklah beberapa ekor anak kucing yang masih mungil-mungil.

Aku yang sedikit geli pada hewan berbulu itu menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Euh …, maksudnya apa sih? hatiku bertanya-tanya.

“Anak kucing ini Farhan temukan beberapa hari yang lalu, Mbak,” jawab Farhan seakan tahu pikiranku.

“Terus? Hubungannya apa?” tanyaku keheranan.

“Farhan menemukan ini waktu istirahat sekolah. Nah, Farhan kan mau makan bekal, tapi Farhan kasihan lihat anak kucingnya kelaparan. Jadinya Farhan kasih deh, bekalnya Farhan untuk anak-anak kucing ini,” ceritanya. “Mbak Farah nggak marah, kan?” tanyanya dengan perlahan.

Aku tertegun. Adikku yang bandel ini penyayang binatang? Aku kalah dengannya, pikirku. Aku terharu dengan sikapnya.

Kemudian aku mengangguk.

“Nggak pa-pa kok, Farhan …. Mbak malah bangga banget punya adik kayak kamu. Mbak nggak nyangka …,” ujarku sambil memeluk Farhan. Mataku sedikit berkaca-kaca.

“Hmm, sudah yuk Mbak. Farhan risih, nih,” Farhan melepas pelukanku.

Aku meringis sambil menyeka air mataku.

“Ya sudah. Yuk, pulang! Kita bawa juga anak-anak kucing ini.”

“Hah, yang betul Mbak?” tanya Farhan nggak percaya.

“Iya! Ayo! Nanti keburu dikunci, lho,” ancamku sambil berjalan menuju pintu gerbang. Farhan mengekor sambil membawa kardus yang berisi anak-anak kucing.

“Lho, kok nggak bisa dibuka?” tanyaku panik.

Farhan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Waduh! Kami terkunci!

###

            “Wahahaha!” Ibu tertawa saat kuceritakan kejadian tadi sore. “Uhuk! Uhuk! Segitunya? Hahaha!” Ibu mengambil segelas air putih di atas meja makan karena tersedak.

“Iya,” jawabku manyun sambil melipat tangan di dada.

“Iya lho Bu,” Farhan yang sedang bermain dengan anak kucing menimpali.

“Ya sudah, nggak pa-pa kok, anak kucingnya dipelihara sama Farhan.” Ibu mengedipkan sebelah matanya pada Farhan.

Mbak Farah bangga, deh,” celetukku sambil melirik Farhan.

Farhan nyengir kuda. Aku dan ibu tertawa melihat salah tingkahnya Farhan.

Heeu … lega, deh!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: