Just another WordPress.com site

SejarahNgupil

Oleh:Alexander

Setiap orang pernah melakukan aktivitas uthik-uthik upil alias ngupil, yakni membersihkan kotoran di lubang hidung dengan menggunakan jari tangan. Ketika di dalam hidung terasa risi, maka jari tangan segera dimasukkan untuk mengkorek-korek sesuatu yang membuat risi lubang hidung tersebut. Sambil cengar-cengir, aktivitas uthik-uthik upil pun segera kemudian asyik dinikmati.

Upil dan Ngupil

Istilah upil digunakan untuk menyebut kotoran yang berada di dalam lubang hidung. Kotoran itu sendiri berasal dari sisa-sisa cairan lendir hidung (jawa: umbel) dan juga dari kotoran debu luar yang masuk ke dalam lubang hidung dan menempel di dinding-dinding

lubang dan bulu-bulu hidung. Namun demikian, upil biasanya merupakan sisa lendir hidung yang telah mengalami pemadatan atau pengerasan. Terutama bagi orang yang sedang berada di dalam proses penyembuhan pilek, dijamin banyak upil di hidungnya. Atau seseorang yang usai menonton konser musik di lapangan terbuka yang berdebu, dipastikan banyak debu yang mengerak di dinding-dinding lubang hidungnya.

Upil juga tersedia di dalam berbagai bentuk ukuran, warna, bau, rasa, serta tingkat kekerasan dan kekenyalan. Hal ini tergantung proses fisika-kimia yang terjadi, yakni menyangkut struktur kimia-fisika dan reaksi kimia-fisika dari zat dasar pembentuk upil yang saling berinteraksi, dan juga faktor lingkungan yang membentuknya. Misalnya, proses pemadatan-perenggangan lendir hidung dipengaruhi unsur kimia penyusun lendir, suhu tubuh orang bersangkutan, dan juga kecepatan angin yang bertiup di dalam lubang hidung. Maka terdapat upil yang besar maupun kecil, berwana-warni, dan keras maupun lembek. Namun biasanya, rasanya tetap sama: asin! Tak percaya?

Orang tahu adanya upil karena ia merasa adanya ganjalan dan risih di dalam lubang hidung. Ia juga merasakan adanya hambatan aliran udara yang keluar masuk melalui hidung. Setelah diraba dengan jari tangan, ia mendapati benda-benda asing yang menempel di dalam dinding-dinding lubang hidung, yang itu bukan merupakan bagian anatomi dinding lubang hidung. Benda asing itu adalah kotoran yang menempel di dinding lubang hidung atau upil.

Selain rasa risi yang terus menggangu hidung, upil juga dapat menghambat aliran udara yang masuk melalui hidung, sehingga pasokan oksigen ke dalam tubuh juga terganggu. Bukan itu saja, upil yang besar, apalagi tidak beraturan bentuknya, akan terlihat ke luar lubang hidung, sehingga menimbulkan rasa malu pemiliknya dan membuat jijik orang lain yang melihatnya. Oleh karena tuntutan pribadi (risi, gangguan pernafasan, dan malu) dan tuntutan sosial (jijik) tersebut, maka seseorang biasanya segera membersihkan upil, dan proses ini disebut ngupil atau uthik-uthik upil.

Berbagai cara dilakukan orang untuk membersihkan upil. Misalnya, seseorang memakai alat pencabut bulu janggut (pinset) untuk membersihkan upil sekaligus mencabut bulu hidung, atau sebaliknya. Cotton But juga sering digunakan untuk membersihkan upil, terutama pada bayi yang masih kecil. Namun cara yang paling umum dan praktis adalah dengan memakai jari-jari tangan. Murah, meriah, available setiap saat, ready to use. Jari tangannya sendiri tentunya (kecuali bayi). Bayangkan jika ngupil menggunakan jari tangan orang lain, maka akan berakibat tingkat presisi kurang tepat, arah gerakan dan tekanan-tekanan tidak sesuai yang diinginkan pemilik lubang hidung. Malah bisa menyakitkan dan bisa-bisa hidungnya berdara-darah. Lagian, mana ada orang yang mau merelakan jarinya digunakan untuk membersihkan upil di hidung orang lain.

Untuk ngupil, sebagian besar orang memakai kelingking dan jari telunjuk. Ada juga yang memakai jempol, jari manis maupun jari tengah. Tak jarang, jari telunjuk dan jempol dikombinasikan, digunakan secara bersama-sama untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Namun semuanya kembali pada orang bersangkutan, dan tergantung selera serta kebutuhan. Yang pasti, apapun jenis jarinya, yang paling nyaman adalah jari yang memiliki kuku. Bisa dapat upil banyak!

Kadang orang tergesa-gesa di dalam ngupil, sehingga jari langsung dimasukkan ke dalam hidung, kemudian seluruh upil dibabat habis secara paksa, selesai! Bahkan bulu hidung turut tercabut. Namun ada kalanya seseorang ngupil dengan santai, jarinya bergerak penuh kelembutan. Ada yang jarinya diputar-putar meliuk-liuk menyapu seluruh dinding lubang hidung tanpa menyisakan tempat kosong. Ada pula yang jarinya hanya dicungkilkan sekenanya. Hard way and easy way.

Selain arah dan kecepatan gerakan jari, ada kalanya seseorang juga menggerak-gerakkan kepala ketika ngupil. Ada juga yang sambil cengar-cengir mengerak-gerakkan bibir mulutnya ke atas maupun ke bawah. Hal ini dilakukan sebagai kombinasi yang membantu gerakan jari agar dapat mencapai upil di bagian-bagian dalam lobang hidung yang sulit dijangkau karena kedalamannya maupun karena lekuk-lekuk kontur dinding dalam lubang hidung. Dan demi kenyamanan.

Proses-proses Mental Ngupil

Pada badan manusia terdapat bagian di mana proses-proses ketegangan bisa mengganggu, dan ketegangan itu dapat disingkirakan oleh suatu tindakan terhadap bagian tersebut. Ketegangan dirasa sebagai penderitaan, sedangkan pertolongan terhadap ketegangan dirasakan sebagai kesenangan. Bagian sensoris menerima rangsangan ketegangan, kemudian mengirim “pesan-pesan” dalam bentuk impuls-impuls (dorongan) pada bagian motoris untuk bertindak meredakan rangsangan ketegangan tersebut. Selain itu, sistem pengamatan menerima rangsangan dan membentuknya sebagai bayangan rohaniah, yang kemudian disimpan sebagai kenangan di dalam sistem ingatan (Calvin S Hall,1959:31). Kulit lubang hidung merupakan bagian badan di mana ketegangan otot-ototnya dapat dirasa sebagai penderitaan.

Mengerasnya upil yang menempel di dinding-dinding kulit lubang hidung telah mengakibatkan menegangnya otot-otot kulit lubang hidung. Ketegangan ini diredakan dengan cara membersihkan upil-upil yang menempel di dinding lubang hidung. Ketika upil telah berhasil diangkat dari kulit lubang hidung, maka ketegangan otot kulit dinding lubang hidung akan mereda. Proses peredaan ini menimbulkan perasaan lega, karena sumber ketegangan telah hilang.

Proses penghilangan upil itu sendiri menimbulkan kesenangan yang diperoleh dari rangsangan yang timbul oleh rabaan-rabaan yang didapat dengan memasukkan jari ke dalam lubang hidung, yang hal ini menghasilkan kesenangan erotis. Usapan dan bermain-main dengan dinding lubang hidung pada tingkat tertentu dapat menimbulkan kesenangan sensuil.

Selain itu, upil merupakan kotoran di lubang hidung yang dapat mengganggu psikis pemiliknya. Obyekytivitas bahwa upil mengotori lubang hidung telah menimbulkan perasaan bahwa dirinya kotor. Aktivitas ngupil itu sendiri menimbulkan perasaan lega ketika upil telah dapat dibersihkan dari hidung. Apalagi jika didapatkan upil yang besar dan keras. Pengupil akan mendapatkan kelegaan, ia merasa dirinya bersih kembali, dan hal ini dapat meningkatkan kepercayaan diri.

Aktivitas ngupil akan terasa nikmat jika dilakukan di tempat yang tidak ada orang lain, hanya si pengupil sendirian. Pengupil tidak akan sungkan dengan berbagai gaya dan durasi ngupil. Namun jika ngupil di lakukan di tempat di mana terdapat orang lain, maka aktivitas ngupil akan sedikit terganggu. Setidaknya mengganggu konsentrasi orang lain yang menyaksikan orang sedang ngupil. Apalagi jika upil hasil uthik-uthik upil tersebut diecer-ecer ke berbagai tempat. Orang lain pasti akan jijik.

Ada sebagian orang yang menyembunyikan aktivitas ngupilnya, baik dengan cara menutupi jari dan hidungnya yang sedang ngupil, maupun mencari tempat sepi yang tidak ada orang lain, sehingga dapat ngupil leluasa. Jika berada di tempat umum yang terdapat orang lain, maka si pengupil tersebut akan menutupi jarinya yang sedang ngupil, juga menutupi hidungnya dengan menggunakan telapak tangan yang satunya. Ia juga tidak akan mengecer-ecer upil secara sembarangan, melainkan menempatkannya pada tisu, sapu tangan, kertas, atau apapun yang sekiranya tidak mengganggu orang lain. Namun biasanya mereka menyentikkan upilnya hingga jatuh ke lantai atau tanah.

Sementara sebagian orang yang lain cuek dan tidak merasa malu atau risih, sehingga dengan percaya diri melakukan aktivitas ngupil di manapun dan kapanpun. Bahkan upilnya diecer-ecer di sembarang tempat. Baginya, yang penting hidung bersih, pekerjaan beres!

Aktivitas ngupil kemudian dilekati dengan pikiran malu, karena ternyata ngupil telah memunculkan persepsi jijik dan risih bagi orang lain. Hal ini kemudian menimbulkan asas kepatutan dan ketidakpatutan di dalam nilai-nilai suatu masyarakat tertentu tentang ruang dan waktu bagi aktivitas ngupil. Sebagai norma sopan santun, hukuman bagi pengupil sembarangan hanyalah sanksi sosial yang tidak mengikat, semisal cibiran dan cemoohan. Misalnya, seseorang ngupil ketika sedang di depan meja jamuan makan suatu acara resmi. Sementara orang lainnya yang juga berada di meja tersebut yang sedang menyantap hidangan akan merasa jijik dan menggunjingkan orang yang ngupil tersebut.

Namun di dalam sebuah masyarakat lainnya yang tidak memiliki nilai-nilai yang mempersoalkan aktivitas ngupil, maka aktivitas ngupil tidak dikaitkan dengan kwalitas moralitas seseorang. Aktivitas ngupil tidak ada relevansinya dengan nilai kepatutan di dalam pergaulan sebuah masyarakat. Setiap orang dapat dengan leluasa ngupil di sembarang tempat dan di setiap saat. Ngupil hanyalah aktivitas biasa yang tidak diatur kaidah sopan santun.

Banyak orang yang tidak terlalu mempersoalkan nilai sopan santun dalam mengupil, namun tetap mencoba menghadirkan cara ngupil yang elegan. Ia akan secara hati-hati memilih jenis jari yang digunakan, mengatur dengan seksama gerak jari dan gerak bibir mulut serta ekspresi wajah, pilihan waktu dan pilihan tempat yang tepat untuk membuang upil agar tidak menimbulkan jijik bagi orang lain. Semua dilakukan tidak sekedar untuk membersihkan upil, namun lebih dari itu, yakni membersihkan upil secara indah.

Humor Upil

Oleh karena seseorang merasa jijik terhadap upil orang lain, maka justru hal ini telah melahirkan berbagai humor dan canda seputar upil. Perasaan jijik tersebut dieksploitasi sedemikian rupa di dalam berbagai bentuk demi kepuasan pengalaman humor. Mulai dari verbal (kata maupun kalimat yang bertema upil) hingga non verbal (tindakan-tindakan konkret). Namun justru kejijikan tersebut sering memunculkan rasa dan pengalaman humor yang menghadirkan tawa.

Misalnya, di dalam masyarakat Jawa sering digunakan kata sa’ upil ketika menunjuk sesuatu, yang maksudnya sesuatu tersebut berukuran kecil sekali, hanya segede upil. Atau teka-teki yang berbunyi: “Susah carinya, tapi ketika didapatkan malah dibuang. Apakah itu?” Jawab: “Upil.” Demikian pula ketika seseorang selesai ngupil dan mendapat upil di pucuk jarinya, maka ia akan memperlihatkan pada temannya dan bertanya: “Lihat, hewan apa ini?” sambil memperlihatkan pucuk jarinya yang terdapat upil. Setelah si teman secara serius mengamati, kontan saja ia langsung menghindar sambil mencaci maki. Pemilik upil tertawa terkekeh-kekeh. Masih banyak lagi humor lainnya tentang upil.

Penutup

Upil dan ngupil yang tampaknya sederhana ternyata memiliki lika-liku penuh sejarah. Upil dan ngupil telah melahirkan metode, proses-proses mental, nilai-nilai masyarakat, dan juga humor. Upil dan ngupil tidak hanya menyangkut persoalan kesehatan dan kebersihan semata, namun juga menyangkut konstruksi kebudayaan yang lebih luas di dalam suatu masyarakat tertentu. Upil dan ngupil sering luput dari perhatian serius, yang mungkin karena dianggap hanya persoalan sa’ upil. Masihkah anda menyepelekan upil dan ngupil? Coba saja anda tidak membersihkan upil di hidung anda, kemudian lihat apa yang akan terjadi!****

lebih dari setahun yang lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: